-- tHe StaRlighT ShiNeS InTanSky --

This is a start that I know I'll believe in...so I'm leavin' everything behind. This is the age when my past should be gone...but it's just stronger than the aims I have. Turning the pages...I used to hang on to...I was young and I have changed my mind And I'm leaving everything behind. New beginning again...a bit closer...new beginning again...a little bit closer... to the beginning of what's yet to come.

Monday, April 11, 2005

Tentang Insting...

Admit it, gue lagi ga kreatif.
Entah kenapa akhir2 ini otak gue ga jalan sama sekali untuk nulis2 curhatan di blog tersayang ini. Mau nulis sesuatu, takut salah. Mau curhat sesuatu, takut ngebohongin diri sendiri...(that’s rite, it’s easier TO TALK than TO DO!) Mau mellow mellow, kayaknya percuma, karena dengan kondisi gue yang sekarang ini, seharusnya gue udah puas dan secara logika ga perlu mellow lagi. Jadi, jangan heran kalo dua postingan terakhir gue isinya bener2 ga penting...(sebenernya ini strategi biar postingan yang di bawah2nya cepet ilang,hehe...karena terlalu sayang buat di-delete...biar bagaimanapun juga..that was what i felt!)

Gue emang ga bakal bahas apa2....sekarang gue wondering apakah insting seorang manusia (baca: cewek!) itu lebih kuat daripada kenyataan yang ada? Atau apakah cewek itu dikategorikan sebagai makhluk yang lemah karena terlalu bermain dengan hati...dan –of course-- instingnya?
Ini ga lucu! Beberapa terakhir ini gue bener2 direpotin sama pikiran yang aneh2...pikiran yang sesuai sama insting gue sebagai seorang cewek. Dilematis emang. Ibaratnya di depan gue ada dua jalan, A dan B (ah, bosen pake analogi A dan B terus...ganti aja ya jadi X dan Y...kan lebih seksis,hehe) Sebenernya, gue tau kalo gue tempuh jalan X, suatu saat hidup gue akan normal kembali seperti sediakala. Tapi ga tau kenapa yaa...jalan X itu kayaknya susah banget ditempuh. Curam! Resikonya terlalu banyak. Sedangkan jalan Y adalah jalan yang sangat landai...seakan-akan i just go with the flow...walaupun kalo gue tempuh jalan ini, i don’t have any clue apakah hidup gue akan jadi lebih baik (?).
Hmmmm....berdasarkan insting, akhirnya gue coba tempuh jalan Y. Tapi rese banget aja loh...insting gue ga konsisten! Tiba2 aja suka berubah lagi. Gue yang tadinya cukup yakin menempuh jalan Y, tiba2 nyesel banget ga ngambil jalan X aja....
Karena kata insting gue, di jalan yang sekarang gue ambil, which is jalan Y, ga akan ngasih gue keuntungan yang sepadan buat gue...
Tapi kata insting gue lagi, i don’t know what i got till it happened! Soooo...just do the simplest way, katanya.

Doain gue yaa..semoga that simplest way will bring a simple happiness to me =)



Ketika ku menangis tersedu Kuingin dekatmu Jika kuingin lepaskan dirimu Sandarkan diri di bahumu Dan karna sesuatu Dan itupun salahku Tak dapat kau terima Kaupun berlalu Ketika ku menangis tersedu Tanpa dirimu hatikupun kelu
Andai kuulang waktu Kukan kembali ke masa itu Dan ku kan hindari kesalahanku Kisah kasih syahdu Sayang semua berlalu Akankah kembali kisah itu Ku tak tahu...

Thursday, April 07, 2005

Tentang Saya...


Your Personality Type
You are an optimist who is often more focused on the past and the future than the present moment. You have an active imagination. You have good hunches and intuitions and people notice that.
Your Motto
"I want to discover the truth in life."
How You Work best
You work best in cooperative, harmonious environments. Competition, a rushed pace, and a strict format for communication don't work well for you. Your strength is your open-mindedness. Your Achilles heel is that you are sometimes too hard on yourself.
Your Life Situation
You are not fully satisfied with your current life situation. It is in your own hands though to change this. Every day you have the opportunity to improve your life situation by making decisions that suit your personality best. Making decisions that suit your personality best benefits all areas of your life: your relationships, your career, your love life, your goals, your family life, and your health. In order to make the decisions that suit YOU best, you need to know your personality well.Learn more about your unique needs and how to shape the environment that suits you best in your 100-page Personality Report. Start making the right decisions today.

Tentang Saya...

How to make a intansky
Ingredients:
5 parts mercy
5 parts courage
3 parts instinct
Method:
Add to a cocktail shaker and mix vigorously. Add lovability to taste! Do not overindulge!

Username:http://www.go-quiz.com/cocktail/cocktail.php">Username:%20name="uname">

Wednesday, April 06, 2005

Tentang Dia...

Eksplisit. Kali ini tulisan gue akan sangat frontal karena gue emang udah ga peduli.
Ini tentang dia. Bukan sok mau ngikutin judul film, tapi ini bener2 tentang dia. Untuk yang terakhir kalinya, kayaknya dia perlu dikasih semacam ‘tribute’. Penghargaan khusus bagi orang yang sangat ‘spesial’.
Dia, yang pernah jadi bagian jiwa gue. Dia, yang pernah bikin gue ngerasa dicintai dan digilai. Dia, yang bikin hidup gue ancur termasuk sampe tadi malem. Dia, yang bikin blog gue jadi berwarna...hahaha...he was my inspiration every day and night.
Dia, si brengsek fuckin’ damn bastard!!!!

Well, gue sebenernya sadar, gue udah bisa digolongkan sebagai salah satu orang terbodoh di dunia setiap kali gue baca ulang tulisan2 di blog ini. For a God sake, Intan, are u crazy??? Still forgiving him? Still convinced that he’s the one? Still...do those silly things to get your love back?????? Dan sekarang gue lebih sadar lagi, gue bukan cuma orang paling bego, tapi juga paling sabar dan paling pemaaf yang mungkin pernah ada di dunia.
Dulu, dia pernah jadi orang yang menganggap gue segalanya. Kayak lagu Brown Eyes-nya Destiny’s Child...i know that he loves me cause it’s obvious / i know that he loves me cause it’s me he trust / you’ll see how he’s so deep in love...
Semua orang bahkan bisa tau dan liat itu sendiri. Saking gedenya tuh perasaan, dia mau ngelakuin apa aja demi gue...dia ga malu2 nunjukin dirinya saat dia bener2 lemah...(well, yes he is)...and so on. Sampe semua temen gue bilang: “Gila Tan, cowo lo baik banget!”
And then, saat semua ga berjalan lancar...saat gue mulai ngerasa dia minta lebih dari apa yang bisa gue kasih (dalam hal perasaan maksudnya)...saat dia udah sangat serius sedangkan gue ngerasa masih terlalu dini untuk serius...gue mengakhiri semuanya. Tapi toh keadaan tetep sama...karena terlalu ngerasa nyaman satu sama lain, jadi sama2 ga bisa lepas. Sama2 masih punya feeling, tapi gue, jujur, dulu terlalu takut untuk nyoba lagi sama dia. Dia bilang ga masalah, selama gue masih deket sama dia. Dan itulah yang terjadi.

Finally, setelah berbagai masalah malah makin banyak muncul dan bikin hubungan sama sekali ga sehat, kita mutusin buat jalan sendiri2. Dia bikin hubungan baru sama orang lain. Gue pun berkali-kali nyoba, tapi, gue ga bisa boongin perasaan gue sendiri. Di sisi lain, dia bilang masih sayang sama gue...masih sms atau nelfon gue, masih kangen kalo ga ketemu gue, and so on. Dan sekali lagi, it was still obvious! Dan kayaknya wajar banget kalo gue mempertanyakan itu, dan mempertanyakan hubungan gue dan dia, yang sama2 masih punya rasa itu, lebih lanjut. Di satu sisi, gue coba berpikiran untuk bikin hidup gue dan dia lebih baik...siapa tau dengan nyoba lagi bisa lebih baik. Siapa tau, gue dan dia sekarang bisa jauh lebih dewasa. Ga lama kemudian, ga sampe sebulan, dia putus sama orang itu. Jujur, gue seneng. Karena apa yang ada di pikiran gue, ini jalan buat menyelesaikan semuanya. Jalan untuk nyembuhin rasa kehilangan gue. Jalan untuk mulai babak baru dalam kehidupan gue.

Dan, yah, kita coba memperbaiki hubungan. Mengevaluasi semuanya. Keliatannya semua berjalan sesuai alur yang bener. Keliatannya feeling gue yang kuat banget ini terbukti. Tapi tau ga apa yang dia bilang barusan? Dia minta ketenangan. Ternyata, dia lebih butuh ketenangan daripada butuh gue. Ternyata dia ga yakin kalo hubungan baru itu bisa bawa ketenangan buat dia. Ternyata saat ini dia udah ga sayang gue (walaupun tetep, omongannya munafik banget). Pake logika aja, mana ada orang yang bilang sayang sama gue kalo dia lebih milih ketenangan daripada cinta gue? Lucunya, dia ngelakuin ini di saat gue udah mempertaruhkan semuanya. Di saat gue udah ga mau lagi make ego gue dalam hubungan gue sama dia. Di saat gue udah mau nerima dia apa adanya, dengan segala kekurangan (sifat) yang dulu sangat mengganggu gue. Tapi ternyata, dia lebih butuh sesuatu yang bernama ketenangan.
Dan ternyata juga, dia lebih brengsek dari yang gue kira sebelumnya

Siapa yang ga shocked denger pernyataan kayak gitu dari orang yang udah gue kasih semua kepercayaan, jiwa, raga, dan perasaan gue? Seketika perasaan gue lenyap. Berubah jadi benci. Kali ini bener2 benci. Kali ini bener2 pelajaran namanya. And somehow, walaupun malam ini gue bener2 lagi benci sama Tuhan yang lagi ga adil banget sama gue,
gue kayaknya harus berterimakasih juga sama Dia.
Seenggaknya mulai malam ini gue dikasih petunjuk ke mana langkah gue selanjutnya. Seenggaknya mulai malam ini gue tau kalo cinta gue ke dia udah bener2 harus mati.

Ternyata it must be ended in this kind of way....


Selamat tinggal sayang...
Bila umurku panjang kelak ku kan datang
Tuk buktikan...satu balas kan kau jelang
Jangan menangis sayang...
Kuingin kau rasakan pahitnya terbuang sia-sia
Memang kau pantas dapatkan


PS: Really, i’m just too good for you! Goodbye, and just save those fucking words “I still love you” to your head. And one thing u shoud remember: u don’t know what u got till it’s gone. I ever felt it before...
and someday it’s gonna be your turn.

Saturday, April 02, 2005

Tentang Keyakinan....

Tau lagu Love Will Lead You Back? Lagu yang sempet jadi hits Billboard di (kalo ga salah) akhir taun 80-an....Lagu yang dinyanyiin sama Taylor Dayne...Lagu yang, sumpah, maknanya somehow bisa jadi berarti banget!
Minggu yang lalu, entah gimana caranya, secara ga sengaja gue denger salah satu kontestan 12 besar American Idol 2005, Mikalah Gordon, nyanyiin lagu ini *sayangnya lagu ini juga yang bikin dia tersingkir minggu lalu...padahal she’s so young and pretty* But anyway, tentu aja bukan soal tersingkirnya Mikalah yang bakal gue bahas di sini. Tapi kekuatan lagu itu yang agak-agak bikin gue amazed. Lagu itu emang udah pernah gue denger sebelomnya. Tapi, baru kemaren itu gue bener-bener merhatiin liriknya. Suddenly i feel amazed...bukan apa-apa, tapi kok ada ya lagu se-PD itu???
Tapi, kalo dipikir-pikir...coba deh diliat keseluruhan liriknya *tenaaang, pasti bakal gue kutip di akhir tulisan ini*. Lo akan sadar kalo lagu itu LEMAH tapi KUAT. Sounds BEGGING tapi TEGAS. Terlalu YAKIN tapi BIKIN SALUT! Nah, jarang-jarang lho ada lagu yang komplit kayak gini.
After that, I realized that sometimes, kita emang perlu punya keyakinan. Hidup ga menyediakan sesuatu yang pasti. Seperti halnya hidup ga menyediakan sesuatu yang abadi. Nothing lasts forever, we already know that. Dan untuk menghindari kita dari sikap pesimistis yang berlebihan, kadang kita harus punya satu kepercayaan dalam diri kita sendiri. Punya keyakinan kalau apa yang akan terjadi ga akan seburuk yang mungkin terjadi. Yang akan dateng di kemudian hari bukan cuma hal-hal negatif yang bisa mengecilkan semangat kita. Karena di balik keyakinan itu ada dua hal yang bisa jadi implikasi positif buat kehidupan kita yang sekarang: berharap yang terbaik, tapi sambil ngejalanin hidup sesuai alur yang ada dan tersedia buat kita. Kesimpulannya, kita jadi orang yang ga maksa.
Lagu itu nyimpen banyak banget hal. Harapan. Cinta. Takdir. Kepercayaan. Kebebasan. Kerelaan. Dan tentu aja, keyakinan. Saat harapan kita ga bisa berjalan sesuai keinginan, ternyata kita ga perlu jadi sedih banget dan ngerasa jadi orang yang paling sial sedunia. Saat cinta kita pergi, ternyata yang harus kita lakukan adalah mengikhlaskan itu semua, karena kesedihan yang saat itu ada toh juga ga akan bertahan lama. Saat takdir berkata lain, ternyata kita harus percaya kalo emang mungkin ada another destiny *perhaps it’s better* yang diperuntukkan buat kita. Saat semuanya tiba-tiba udah meninggalkan kehidupan kita, ternyata yang kita perlukan adalah membebaskan diri kita sendiri dari semua kenangan yang ada. Ngerelain semua itu terjadi ternyata jauh lebih baik daripada menyesali semua kesalahan dan berambisi untuk menunjukkan kalau kita kuat. Kalo emang itu yang terbaik, suatu saat semua pasti balik lagi. Well, i found that my last experience makes me wiser. And that’s the way i should have been =)
Hmmm...lucu, karena sekarang gue udah cukup bisa ngetawain diri gue yang dua minggu lalu. Kenapa ga dari kemaren2 aja ya gue didengarkan lagu itu??? Ternyata my life has going on smoothly. Not too bad either. I just can’t believe i got this thru in a quite short time.
But i do believe this magical song had an assist on it!

saying good bye is never an easy thing
but you never said you'd stay forever
so if you must go darling i'll set you free
but in time i know we will be together
i won't try to stop you from leaving
'coz in my heart i know

love will lead you back
someday i just know that love will lead you back to my arms where you belong
i'm sure, sure as the stars are shining
one day you will find me again
and it won't be long
one of these days, love will lead you back


PS: You’d just walked out that door...Now you’re facing two ways...Just remind you that the one is the way to find the whole new world..., and the other will bring you back home. Well, perhaps i’m still there, but probably i’d gone.

Thursday, March 31, 2005

Tentang Mencintai (atau) Dicintai...


Satu inspirasi dateng setelah gue baca sebuah kalimat di suatu edisi Jelaga, buletin independen yang diterbitkan oleh temen gue sendiri. Katanya, cinta itu adalah mencintai, dan bukan dicintai. Ah, masa iya? Bisa jadi bener, kalo cinta itu bentuknya seperti cinta ke orangtua, atau cinta ke hewan peliharaan *mana bisa si kucing membelai2 kita?*, atau cinta ke seorang idola *walaupun menurut gue ini cinta yang agak-agak ga rasional*...tapi, kalo cinta terhadap pasangan? Gue entah kenapa percaya, cinta itu ga akan membawa kebahagiaan kalo orang yang kita cintai tidak mencintai kita....
Well, okay, mungkin satu paragraf di atas cuma satu bentuk analogi...atau justru cuma pembukaan basa-basi dari tulisan di bawah ini yang intinya satu: curhat. *itu bukan gunanya blog?* Walaupun isinya curhat, yang jelas ini tetep menyangkut perdebatan akan definisi the real love: dicintai atau mencintai?
Jujur deh, siapa yang ga ngerasa seneng kalo dicintai? *harap diperhatikan, ini dalam konteks lawan jenis* Siapa yang ga seneng diperhatiin sama seseorang? Siapa yang ga seneng diperlakukan secara baik banget sama seseorang? Siapa yang nolak untuk disayang?
Apalagi, di saat lo ngerasa dunia ini hampir berakhir. Apalagi, ketika lo ngerasa membutuhkan seseorang untuk membangkitkan semangat yang lagi berada di titik terendah. Apalagi, di saat lo lagi ngerasa down banget karena apa yang lo inginkan sama sekali ga tercapai. Apalagi, ketika lo sedang merasakan seperti yang gue rasakan....
Dan emang efek dicintai itu luar biasa hebat!!! Taro deh blom sampe ke kata ‘dicintai’ *karena bagi gue cinta itu berarti perasaan yang sangat dalam* , tapi diperhatikan dan disayang. Saat itu terjadi, seolah-olah hidup gue kembali normal...Saat gue ngerasa disayang, seolah-olah semua masalah ilang...Saat gue diperhatikan, seolah-olah gue merasa...bahagia! Ternyata efek cinta itu besar banget ya....
Sekali lagi, seperti yang gue janjikan, curhat ini tetep nyangkut ke persoalan kontroversi makna cinta: dicintai atau mencintai. Efek itu emang hebat. Tapi ga beberapa lama kemudian, efek itu udah hampir ga berasa lagi. Apa sebabnya? Hmmm...,okay, untuk ngejawab itu, coba kita bikin analogi yang lebih simpel. Bayangin kalo perasaan gue yang berduka sebagai api yang hampir mati. Perasaan dicintai *okay, disayangi maksudnya* sebagai minyak tanah. Dan bayangin perasaan mencintai gue sebagai angin. Saat lagi sekarat dan hampir mati, tiba2 api itu disiram minyak tanah. Bergejolak. Api itu jadi hidup lagi...terang lagi. Tapi tanpa gue sadari, angin dateng berhembus...lumayan kenceng...bikin api itu jadi mengecil lagi...Pasca lewatnya angin, efek si minyak tanah udah kayak ga ada jejaknya...Dan tentu aja, api itu butuh minyak tanah lagi untuk jadi besar lagi. Begitu seterusnya. Sekarang tinggalin analogi di atas. Gue ibarat orang yang lagi haus akan minyak tanah itu....haus akan perasaan dicintai. Sadar kalo itu satu-satunya cara bisa survive dan menghidupkan semangat yang selalu dikecilkan lagi setiap angin dateng...Tapi gue juga sadar, siapa yang bisa ngilangin angin itu? Cuma waktu...waktu yang akan gantiin semuanya. Waktu yang akan bilang...sekarang saatnya angin itu berhenti bertiup ke gue yang di utara dan membalikkan arahnya ke selatan. Gue pun sadar, gue bisa ngedapetin minyak tanah dengan cukup mudah di banyak tempat. Tapi, sebanyak apapun minyak tanah itu gue siram ke badan gue sendiri *inget, gue itu api*, selama waktu blom memutuskan supaya angin berbelok ke selatan, semuanya tetep percuma. Semuanya cuma temporer. Karena api itu akan terus balik mengecil lagi.
Pada akhirnya, gue nangkep sesuatu. Cinta itu bukan persoalan dicintai atau mencintai. Cinta itu adalah tentang saling mencintai. Kita ga mungkin hidup cuma untuk mencintai tanpa dicintai... *duh, pathetic banget*...
Tapi kita juga ga mungkin ngerasa lengkap kalo kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.

Sunday, March 27, 2005

Tentang Belajar....


Image hosted by Photobucket.com



At first i was afraid, i was petrified



I kept thinking i could never live without you by my side



But then i spent so many nights...Just thinking how you did me wrong



But i grew strong...And i learn how to get along



 



Hmmm...tepat seminggu gue ga nulis di blog. Waktu yang cukup lama...tumben...padahal biasanya adaaa aja hal-hal yang pengen gue tulis di blog ini. But, entahlah, seminggu terakhir ini adalah seminggu paling berat dalam hidup gue. I know i said too much about kesedihan-kesedihan gue di blog..but trust me, this week is just worst *serius*.



Pada akhirnya kenyataan harus berpihak ke salah satu orang. Well, i’m just human...gue ga mampu ngerubah takdir. Ga mampu ngerubah apa yang udah diputusin sama orang lain. Ga mampu ngerubah nasib gue sendiri sesuai apa yang gue pengenin sepenuhnya. Pada akhirnya, gue cuma bisa belajar dari peristiwa terberat dalam hidup gue ini.



Belajar? Yah, belajar memahami perasaan sendiri. Belajar memahami perasaan orang lain. Belajar menerima keadaan sesulit apapun. Dan belajar percaya kalo suatu saat keadaan akan berputar lagi, percaya kalo suatu saat gue bakal dikasih kebahagiaan lagi.



Cengeng banget kalo dipikir-pikir...mata gue sampe bengkak krn nangisin sesuatu yang sama sekali ga penting. Sampe lebam kayak abis ketonjok...ga tidur-tidur, gara2 mikirin hal yang sama sekali ga pantes untuk dipikirin. Sampe jadi batuk beneran...gara2 beberapa batang L.A Lights *cuma L.A Lights padahal!* yang jadi pelarian gue. Sampe lupa kalo sebenernya gue masih punya hidup yang lebih berharga untuk dibuang dengan nangis dan mikirin satu orang aja. Gue masih punya banyak temen yang lebih berharga daripada keberadaan satu orang yang selama ini, walaupun udah kayak belahan jiwa gue, tapi sangat sering menyusahkan pikiran dan jiwa gue sendiri *saking satu jiwanya*. So, masih mau ngelakuin kayak seminggu terakhir ini? Ga deh!



Time will tell...besok gue udah harus siap ngejalanin mid-test...pada awal semester ini gue udah janji untuk ningkatin IP lebih tinggi lagi...Maklum, temen seangkatan pada jenius semua *security dilemma*...kalo gue pengen mencapai hasrat jadi asisten dosen taun ini, gue harus berjuang buat, seenggaknya, mempertahankan posisi ke-5 seangkatan dalam hal IP...seenggaknya kalo diliat dari poin itu peluang tetep ada. Kalo gue mau lulus dengan predikat cum-laude *mupeng* (kalo ini semata-mata untuk menyenangkan orang tua gue,hehe), mau ga mau gue harus ngejar IP terus sampe 2 semester ke depan (insyaallah 2 setengah semester lagi...)...karena sekarang IP gue kan blom cukup untuk disebut cum-laude. Weitsss, pasti seneng banget bikin orangtua gue bangga...anaknya males males gini bisa cum laude loh!! Hihiihi.....amin! Pokoknya gue akan berusaha semaksimal mungkin...asal mata kuliah statistik sosial gue ga sampe C atau D aja semester ini...*seram!*



Being single and happy...hmmm...slogan Chicklit itu ada benernya juga ternyata. Baru sekarang gue ngerasa totally single lagi! Reborn...kayak jadi diri gue yang baru lagi...mulai dari nol lagi....but it’s okay. Positifnya, gue jadi bebas pergi bareng siapapun! Clubbing lagi juga bisa,hehe. Gue percaya tahap healing ini bakal gue lewatin...walaupun untuk jangka panjang. Tapi untuk jangka pendek, hal yang harus gue lakukan adalah mengembalikan kesegaran muka!! Yuppp...kemaren aja ada orang yang ga tau masalah gue bilang kalo muka gue keliatan capeeeek banget, puceeeet banget! Sampe bokap gue aja bilang di suatu subuh, “Semaleman ga tidur,ya?? Kenapa?” Upz, should i tell this to my Dad?? I really don’t think so.



Keadaan seminggu terakhir ini juga bikin gue sadar...kalo mungkin ada jalan lain buat gue. Sekarang sih gue masih bertanya2 dan blom tau itu apa...but someday saat itu terjadi mungkin gue malah bersyukur dapet cobaan kayak gini. Sekarang gue cuma pengen balik lagi...pengen balik lagi jadi Intan yang dulu selalu ceriaaa (sampe e-mail gue aja namanya cheery_intansky)...Intansky yang kayak langit biru..bisa mencerahkan dan bikin ketawa orang2 di sekitarnya...Well, kalo temen gue aja bisa bilang kalo dia kangen gue yang dulu, apalagi gue. I miss my old me. Sesuatu yang kalo gue liat di kaca depan gue berdiri blom keliatan. But i promise, it will appear as soon as I can...



 



It took all the strength i had just not to fall apart



Kept trying hard to mend the pieces of my broken heart



And i spent oh so many nights...just feelin’ sorry for myself



I used to cry...but now i hold my head up high




Sunday, March 20, 2005

Tentang Kompromi...

I don't need your sympathy
There's nothing you can say or do for me
And I don't want a miracle
You'll never change for no one
And I hear your reasons why
Where did you sleep last night?
And was she worth it, was she worth it?

I'm strong enough to live without you
Strong enough and I quit crying
Long enough now I'm strong enough
To know you gotta go
(Cher - Strong Enough)
Hari ini gue belajar sesuatu.
Actually, saat tadi pagi gue bangun, i didn’t have any clue at all. Gue mimpi sesuatu yang sangat buruk...mungkin jauh lebih buruk daripada kenyataan yang sebenernya (atau sama aja?). Bangun2 gue ngerasa kedinginan, padahal AC kamar gue tadi malem ga ditambahin suhunya. Badan gue panas. Panas, tapi aneh. Karena gue sama sekali ga ada tanda2 sakit. Yang sakit justru hati gue. Kok bisa? Sementara otak gue sama sekali ga menginstruksikan ke hati supaya sakit? Atau setiap hati itu punya freewill-nya sendiri? Independen..lepas dari otak? Apa itu yang dinamain sakit jiwa?
I guess so. Gue emang udah sakit jiwa sekarang. Kalo ditanya perasaan gue, semuanya campur aduk, semuanya jadi satu. Kalo kata Rani sih, otak sama hati gue mungkin emang ga sinkron. Jadi ga ada yang bener di mata gue. Ga ada yang bener di pikiran gue. Yang ada semuanya salah, semuanya jadi nyakitin banget. Gue blom bisa adaptasi sama kenyataan yang ada sekarang. Kenyataan kalo gue udah bener2 ditinggal pergi sama orang yang pernah berarti banget buat gue. Yang bikin gue bingung, otak gue sendiri ga pernah bilang kalo itu adalah sesuatu yang buruk. I mean..how many times i told him to go far away from my life? How many times i said that i couldn’t stand with his annoying attitudes to our relationship? The answer is...sering banget.
Ga ada yang salah di sini. Dia ga salah, dia punya hak buat sayang sama orang lain lagi. Tapi kenapa gue malah jadi sakit jiwa? Sumpah, udah berhari2 gue nangisin hal yang ga seharusnya gue tangisin. Berhari2 gue mikirin hal yang seharusnya udah jadi bagian dari masa lalu gue. Kalo diitung secara matematis, gue tuh goblok banget. Semuanya percuma. Mau gue apa? Pengen liat orang itu tetep hidup bahagia dan ngelupain gue selamanya? Nggak! Pengen supaya dia putus dan balik lagi sama gue? Itu juga nggak! Well, what do i really want?
Gue tanya sama otak gue, katanya gue cuma dikuasain ego. Tapi saat gue tanya berkali-kali ke hati gue, akhirnya gue tau jawabannya. Well, i guess gue cuma butuh penyesuaian lebih lanjut. Mungkin kadarnya blom bener2 abis...baru sekitar 70%, sementara 30%-nya masih mengendap di jiwa gue ini. Yang masih ngedorong gue buat mikir ke hal2 yang udah ga seharusnya gue pikirin. Yang masih bikin hati gue sesekali ngerasa sakit tanpa gue minta. Tanpa gue duga kapan datengnya.
Hari ini emang cuma 24 jam...Cuma sehari, just like any other days. Tapi bagi gue, hari ini berasa 5X24 jam. Berasa ga akan pernah abis. Udah ga kuat nangis. Capek banget nahan sakit hati. Rasa sakitnya sampe ke kepala, sampe bikin gue migrain. Sampe semua tugas mulai dari MMI sampe MPHI jadi terbengkalai dan nol hasilnya. Berasa gue ga bisa ngelakuin apa2. Berasa, okay, this is the end of my life. Tapi tentu aja itu adalah pikiran terbodoh yang pernah gue punya. There’s a long long journey in front of me...kayaknya terlalu bego ya kalo nganggep ini semua bisa bikin gue mati?
Dan, yah, gue emang blom mati. Jiwa gue masih ada, walaupun gara2 sakitnya minta ampun hari ini, jiwa gue masih dalam tahap healing. Blom totally sembuh, tapi gue harus berusaha sembuh secepatnya dari sakit ini.
Sakit yang dateng setiap gue inget apa aja yang pernah gue lakuin buat orang itu.
Sakit yang dateng kalo inget betapa ga gampangnya gue bisa ngelupain semuanya ini, sementara he made it easily.
Sakit yang dateng kalo nyadar udah berapa ribu maaf yang pernah gue relain buat orang itu dulu, tapi pada akhirnya gue nyesel udah memaafkan dia dan cuma dapet ruginya doang.
Sakit yang dateng kalo ngeliat betapa ga berartinya apa yang udah kita bangun bareng2, karena semua itu udah ga ada hubungannya dan ga berpengaruh sama kehidupannya yang sekarang.
Sakitttt, karena tanpa gue sadari dan tanpa gue inginkan gue masih aja ngerasa begini!
Gue emang kehilangan, but honestly, kadang kehilangan itu yang gue inginkan. Lucu ya, ga ada kesesuaian antara hati dan otak. Gue tau otak gue udah ga peduli sama dia, ga peduli sama apa yang dia perbuat, apa yang dia kerjain, ga peduli semuanya. Tapi hari ini gue juga jadi tau kalo hati gue (ternyata, suka atau ga suka, i just can’t deny it...) blom sepenuhnya ngerelain bekas pemiliknya itu pergi jauh. Sekuat apapun otak gue nyoba untuk punya kehidupan baru sama orang lain, itu pasti gagal karena hati gue blom bener2 ngosongin tempatnya...Atau lebih parahnya lagi, blom mau bukain pintunya buat penghuni yang baru...
Gue tau persis, seharusnya gue bisa ngeduluin dia dari kemaren2. Kalo aja gue ngelakuin itu...mungkin gue ga akan ngerasa terlalu begini. Tapi buat apa? I can’t hurry love. Cinta itu ga bisa dipaksa. Sayangnya, Tuhan lebih dulu ngasih ke dia daripada ke gue.
Gue pernah ngalamin ini sebelomnya. Waktu itu, beberapa taun yang lalu, i tried so hard to forget someone. Gue coba berbagai cara saat cinta pertama gue pergi. Hubungan sekitar 8 bulanan itu bener2 bukan hal yang gampang untuk dilupain. Dan gue ga tahan. Akhirnya gue memutuskan buat jadian sama orang lain. Saat gue baca tulisan gue di diary waktu gue akhirnya putus sama cowok baru itu, gue cuma bisa senyum. (Dengan nama samaran) kurang lebih isinya begini...

Rabu, 26 April 2K
“Sumpah deh, siapa yang ngira gue jadi single fighter lagi? Kutu kupret! Emang sih, si Donny udah lari. Lagian gue seneng kok, Dy, bebas dari dia. Buat apa gue tetep jadian, Dy, kalo sekalipun gue ga pernah mikirin Donny, kayak gue berfantasi mikirin Rino? Buat apa gue tetep jadian, Dy, kalo blom ada yang bisa gantiin Rino di dalem my secret heart...??”


Ternyata ada gunanya juga buka diary jadul...yahh...walaupun keadaannya agak beda, tapi satu hal yang gue tangkep, cinta itu ga bisa dipaksa. Gue jadi tau apa yang harus gue perbuat. Gue cuma harus mensinkronkan otak dan hati gue. Cinta emang ga pake logika, tapi dalam keadaan kayak gini, kayaknya gue harus lebih ngandelin akal sehat. I have to compromise with my self, and by myself. Please God, give me the strength...that’s all what i need right now...don’t ever let my tears drop by anymore...apalagi to something that i shouldn’t have to cry about...

**PS: Kalo lo suatu saat baca tulisan ini cuy, berbahagialah...karena cuma sedikit bangetorang yang bener2 dicintai sama hati gue. And then prove your words...prove your words that your love hasn’t really dead, prove your words that your love to me would never stop till the end of time.
Haha, i bet u won’t!
Kenyataannya kebalik bukan, Mr. Innocent?**
It's so sad that you're leaving...it takes time to believe it
But after all is said and done...you're gonna be the lonely one, oh
I need time to move on I need love to feel strong
'Cause I've got time to think it through
And maybe I'm too good for you, oh

(Cher - Believe)